*** MARI KITA SALING BERBAGI INFORMASI - MANFAATKAN MEDIA SEBAGAI SARANA EDUKASI - MAJULAH BANGSAKU - MAJULAH INDONESIAKU ***



Tuesday, November 1, 2011

Dunia Maya, Efek Nyata

Oleh : Asharidho Lubis

Sampai hari ini masih sering di jumpai seseorang yang berasumsi, dunia internet itu adalah dunia maya. Perjumpaan ini bukanlah yang terakhir. Selama masih ada orang yang belum memperoleh manfaat positif dari dunia online yang mereka sebut maya itu, mereka tak akan menyadari bahwa hal itu sangatlah real.
Orang-orang ini selalu menganggap dunia maya itu dunia antah berantah yang tidak perlu diperhatikan secara serius. Hal ini tampak dari ungkapan-ungkapan mereka yang masih menyudutkan perilaku onliner. misalnya ungkapan, “masalah kayak gitu aja (perilaku di twitter dan facebook) di bahas”.
Boleh saja mereka tidak memakai (mengenal) tekonologi ini. Bukan berarti dunia online itu dunia maya, namun sangat real dan pengaruhnya sangat terasa. kita bisa memperoleh rasa sedih, senang dan uang di sana.
Ada beberapa kalangan yang hidup dengan memanfaatkan dunia maya. Salah satunya  Derawan, Ibu rumah tangga konvensional. Maksudnya Ibu rumah tangga profesional karena dia tidak bekerja di kantor. Namun seluruh hidupnya didedikasikan untuk mengurus keluarga.
Awal tahun 2000an dia sangat aktif menulis di blog. Rupanya tulisannya sangat menarik para onliner lain. Dari sini mulai muncul keterikatan pertemanan dengan saling mengunjungi blog dan meninggalkan sepucuk komentar di sana. mulailah mereka mengadakan kopdar (kopi darat), pertemuan di warung kopi atau tempat lain yang disepakati.
Kepopulerannya terus melesat, karena itu dia mulai mempunyai “massa”. Peluang ini dilihat para pemilik brand untuk mendukung kampanye program-program yang sedang dijalankan brand tersebut. Di sela-sela postingan rutinnya, sekarang sudah ada webtorial di sana. Sejak itu ia dikenal sebagai blogger berbayar.
Dari sini, ia mulai diminta untuk menjadi pembicara-pembicara seminar yang membahas tentang komunitas, tentang bagaimana cara menulis dan bagaimana cara membranding dirinya maupun hal lain.
Social media terus berkembang. Munculah twitter. karena ia sudah mempunyai “basis massa” sebelumnya dengan mudah ia memperoleh follower yang jumlahnya ribuan dalam waktu singkat. Kembali brand memanfaatkannya sebagai buzzer atau rainmaker. Setiap kicauan yang ia posting di twitter ia memperoleh bayaran.
Sekarang ia memperoleh sebutan baru selebtwit. dan ini makin melambungkan namanya di “dunia maya” dan dunia realita. Karena ia punya massa dan memahami perilaku onliner di social media banyak “agency” yang memintanya bergabung menjadi timnya. Selain berefek ke masalah karir, tentu saja ia juga mengalami hal-hal personal akibat ia berkiprah di dunia maya tersebut.
Sampai di sini masih mengganggap dunia maya itu tidak real?
Mungkin perlu diingatkan lagi, banyak peristiwa besar berawal dari dunia maya. Kasus koin Prita, koin sastra dan ketika gunung merapi erupsi, seorang seleb terpaksa telanjang di minimarket atau penculikan abege di facebook dan lainnya.
Bisa dimaklumi, kesalahan bukan sepenuhnya pada mereka. Pada saatnya nanti, kelak ketika mereka telah memperoleh manfaat dari teknologi ini, mereka pasti akan  menyadari bahwa ada dunia lain selain dunia nyata yang dipahaminya sekarang ini. Dan dunia ini jauh lebih menyenangkan, sangkil dan mangkus.

Tuesday, October 18, 2011

Duh! Krisis Eropa Paksa Ekspor Stagnan

Pengamat ekonomi, Aviliani mengatakan, penerimaan negara dari ekspor berpotensi terganggu dengan belum tuntasnya krisis Eropa. "Paling cuma stagnan saja terhadap ekspor. Berarti kita tidak akan meningkat mendasar dari pendapatan," ujarnya di Jakarta, Selasa (18/10).

Menurutnya, kemungkinan terjadinya gagal bayar (default) pada negara-negara maju di Eropa dan AS sangat minim. Pasalnya, negara-negara tersebut akan mencari solusi untuk bisa keluar dari krisis.

"Kalau saya lihat AS dan eropa tidak mungkin mau default gitu saja, mereka akan terus bersaing untuk bertahan. Sehingga nantinya kita mungkin hanya akan merasakan krisis yang kecil-kecil," tuturnya.

Sebagai solusi, lanjutnya, pemerintah harus menggenjot pertumbuhan infrastrukur agar pertumbuhan ekonomi tidak terlalu bergantung pada ekspor.

"Sehingga stagnasi dari ekspor ini yang harus kita hadapi yaitu dengan cara gimana infrastruktur ini dibangun, kemudian penyerapan tenaga kerja baru. Kalau stagnasi, kan berarti tidak ada penyerapan tenaga kerja baru kan," tandasnya.

Saturday, October 1, 2011

Going Green Mission With Kapuk Fiber

As awareness of global warming and other environmental problems grows, companies are realizing the need to have their own going green mission statement. Green mission statements describe the principles the company is striving to adhere to and may also outline some objectives to reach their goals. Sometimes it helps to start with a generic green mission statement, which will leave room for customization in the future. Here is an example of a going green mission statement that we recommend as a starting point. Keep in mind that you can have your own mission statement custom printed on these eco-friendly signs made from recycled plastic.
Here is what the environmental mission statement reads:
We are dedicated to contributing to a sustainable future for our planet through:
Commitment to the 3 “R’s”
Reduce consumption, waste and pollution
Reuse what we have
Recycle everything we can
Conserving energy, water, and other natural resources
Compliance with all enviornmental regulations
Striving to buy, sell, and use environmentally friendly products
Educating employees, customers and other businesses
Together we can make a difference…
Another way to simply reinforce the commitment your company has made to the environment is this sign that reads “We Support a Greener Work Environment”.